Terbentuknya pasar
dapat ditinjau dari sudut kebutuhan manusia yang harus dipenuhi, untuk
dapat menjamin kelang-sungan hidupnya. Kebutuhan manusia timbul dengan
sen-dirinya, makin lama semakin berkembang sesuai dengan makin
berkembangnya alam pikiran manusia itu sendiri. Dengan kata lain
kebutuhan bukan sesuatu yang sengaja diciptakan, baik oleh orang itu
sendiri maupun oleh orang lain.
Dengan makin bertambahnya kebutuhan manusia maka makin
bervariasi pula barang dan jasa yang diperlukan untuk memuaskan
kebutuhan tersebut. Bahkan satu kebutuhan secara utuh, baru dapat
terpuaskan oleh beberapa jenis barang atau jasa secara bersama-sama.
Umpamanya, kebutuhan akan penampilan yang cantik menawan, tidak hanya
terpuaskan oleh sebatang pewarna bibir atau sekotak bedak saja.
Diperlukan seperangkat benda untuk itu; termasuk pakaian yang serasi,
sepatu yang apik, tas yang indah, kalung dan subang yang menawan, gelang
yang pantas, dan sebagainya. Diperlukan pula sekumpulan jasa untuk
memuaskan kebutuhan itu, seperti salon kecantikan, penjahit pakaian,
sampai pada jasa penarik beca yang mengantarkannya ke tempat-tempat
tersebut.
Tidak jarang seseorang merasa bingung, tidak tahu bagaimana cara
memuaskan kebutuhannya. Ia ingin cantik misalnya. Tetapi ia tidak tahu,
bedak apa saja yang harus dipakainya agar sesuai dengan sifat kulitnya.
Ia tidak tahu baju mana yang harus dibeli agar serasi dengan
penampilannya. Ia tidak tahu pula di mana harus membeli
sepatu yang sesuai dengan baju dan tas yang sudah dibeli sebelumnya.
Mengapa perasaan bingung ini timbul ? Karena seseorang selalu berusaha
untuk memilih barang atau jasa yang mampu memberikan kepuasan maksimal
pada kebutuhan yang dirasakannya. Dari sinilah, dengan didukung oleh daya beli yang cukup, tercipta suatu permintaan.
Makin bervariasi kebutuhan manusia, makin berkembang pula cara yang
mereka tempuh untuk memuaskannya. Pada masa awal kehidupan manusia
kebutuhan dipenuhi sendiri. Manusia berburu dan bercocok tanam untuk
memenuhi kebutuhan pangan dan' mempertahankan diri dari kelaparan.
Manusia mencari kayu di hutan untuk memasak, menghangatkan badan dan
diambil kulitnya untuk "pakaian". Manusia mencari kerang dan batu-batuan
untuk dibuat manik-manik sebagai sarana kecantikan. Manusia membuat
kampak dan panah dari batu-batuan untuk perlengkapan sehari-hari. Cara
lain yang ditempuh di sini lazim disebut self production. Cara lain yang
juga dapat dipakai manusia adalah merampas dan meminta pada orang lain.
Sehingga dalam kehidupan manusia telah di-kenal adanya kaum perampok
dan perompak, juga kaum pe-minta-minta.
Makin lama manusia makin tidak mampu untuk memenuhi sendiri segala
kebutuhannya. Sementara itu untuk merampas dan meminta,seseorang tidak
mau melakukannya. Lalu manusia mencoba untuk melakukan pertukaran.
Pada mulanya dilakukan pertukaran antara barang/jasa dengan barang/jasa
yang lain. Cara ini masih dilakukan pada suku-suku terbelakang pada
saat ini. Rotan, damar dan berbagai hasil hutan ditukar dengan garam,
gula dan berbagai kebutuhan harian lainnya. Tampaknya cara pertukaran
untuk memuaskan kebutuhan ini berjalan, mudah, tanpa banyak tata cara
yang merepotkan. Pengamatan ini ada benamya selama dipenuhi beberapa
syarat pertukaran, antara lain:
1. Setidak-tidaknya ada dua pihak yang saling membutuhkan pertukaran barang/jasa.
2. Tiap pihak mempunyai sesuatu yang berharga bagi fihak yang lain.
3. Tiap fihak mampu berkomunikasi dan menyerahkan.
4. Tiap fihak bebas untuk menerima atau menolak tawaran yang diberikan oleh fihak lain.
5. Tiap fihak merasa perlunya berhubungan dengan fihak lain.
Paling tidak ada lima persyaratan yang harus dipenuhi untuk terjadinya pertukaran. Pertukaran
tidak akan terjadi bila yang membutuhkan hanya satu fihak saja. Ia
tidak bisa me-maksa orang lain untuk menerima barang miliknya dan
meminta barang milik orang lain tersebut. Pertukaran akan terjadi secara
sukarela, bukan paksaan dari satu fihak pada fihak yang lain. Juga
pertukaran tidak akan terjadi bila satu fihak merasa bahwa barang/jasa
yang dimiliki fihak lain untuk dipertukarkan tidak cukup bemilai.
Seseorang tidak akan menukarkan barang yang dimilikinya dengan barang
lain yang dipandangnya mempunyai nilai
lebih rendah, kecuali dalam keadaan terpaksa. Pertukaran juga tidak
akan terjadi bila seseorang tidak mampu mengutarakan maksudnya dengan
berbagai cara yang di-mengerti oleh fihak lain. Maksud ini dapat
diuraikan dengan kata-kata isyarat maupun tanda-tanda tertentu. Apapun
yang dipakai, yang penting adalah maksud tersebut difahami oleh fihak
lain. Komunikasi adalah jembatan utama yang menunjang terciptanya proses
pertukaran. Kesalah fahaman, bahkan pertikaian sering timbul karena
ketidak mampuan komunikasi, baik menyampaikan maksud maupun memahami
maksud orang lain. Pertukaran barang/jasa dengan barang/jasa lain
disebut transaksi barter, di mana transaksi adalah proses pertukaran
nilai antara dua fihak yang saling sepakat.
Dalam perkembangannya, proses pertukaran ini kemudian mengikutsertakan suatu mata uang
yang nilainya di-sepakati bersama oleh kedua belah fihak. Pertukaran
yang melibatkan mata uang sebagai nilai tukar suatu barang/jasa kemudian
disebut sebagai transaksi moneter. Atau lebih lazim disebut sebagai kegiatan jual-beli.
Proses transaksi inilah yang kemudian menjadi dasar pemahaman tentang
pasar. Pasar adalah suatu himpunan pembeli aktual dan potensial bagi
suatu barang atau jasa. Makin banyak orang atau individu-individu maupun
kelompok yang membutuhkan suatu barang atau jasa maka makin besar bagi
barang atau jasa tersebut. Begitu pula sebaliknya. Pada mulanya, bahwa
pasar adalah tempat pertemuan pembeli dan penjual dalam arti fisik.
Tetapi, seiring dengan semakin majunya sarana komunikasi dan
pengangkutan, pengertian ini tampak semakin tidak relevan. Dalam uraian
berikutnya, sengaja katatempat diletakkan dalam tanda petik agar dapat
dihindari pengertian fisik ini.
Pasar sebagai "tempat" pertukaran.
Sampai sejauh ini kita tampaknya beranggapan bahwa perusahaan dan
individu sebagai bagian dari pasar secara makro tampil begitu saja,
kemudian melakukan kegiatan ma-§ing-masing sesuai dengan perannya.
Tetapi sebenamya perlu dipertanyakan, bagaimana terbentuknya pasar
sehingga menjadi sedemikian kompleks? Atau tepatnya, bagaimana jadinya
pasar sebagai "tempat" menjual atau membeli suatu produk ?
Secara sederhana dapat diambil contoh lima orang yang mempunyai
keahlian berbeda satu sama lain. Orang pertama berspesialisasi membuat
barang A, orang kedua membuat barang B, dan seterusnya sampai orang
kelima. Suatu ketika orang pertama membutuhkan barang E, lalu ia pergi
ke tempat orang ke lima. Bila ia membutuhkan barang B, ia mendatangi
orang kedua, dan seterusnya. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan kelima
orang tersebut atas kelima macam barang diperlukan sepuluh kali
pertukaran, seperti terlihat pada gambar 1.3.
Apakah proses pertukaran di atas dapat disebut pasar ? Pada mulanya memang demikian. Pasar timbul
sebagai proses pertukaran barang atau jasa antar fihak-fihak yang
saling membutuhkan. Tetapi perkembangan yang terjadi pada pola pemikiran
manusia mengakibatkan timbulnya pandangan bahwa proses di atas tidak
efisien lagi. Bukankah tidak masuk akal untuk masa sekarang orang harus
bersvisah payah pergi ke kota untuk mendapatkan sebungkus rokok
atau sepasang sepa-tu ? Seperti tampak pada gambar 1.4, kemudian timbul
"pasar" dalam pemgertian yang lebih tegas sebagai tempat yangdibutuhkan
untuk menjual dan membeli barang atau jasa yang dibutuhkan. Pada
dasamya prinsip yang berlaku pada sistem ini sama dengan sistem pertama
(Gambar 1.3), hanya saja orang merasakan ada-nya suatu kelebihan
efisiensi. Kelebihan inilah yang men-dorong makin berkembangnya pasar
dengan variasi. Sehingga akhirnya pasar dikenal pasar modal, pasar uang,
pasar kapital, pasar tenaga kerja, sampai pada pasar barang antik.
Proses pertukaran melalui pasar semakin berkembang dengan hadimya pihak
ketiga (individu lain atau perusahaan) yangbertindak sebagai "dealer".
Kita sering menyebutnya sebagai pedagang saja, untuk menun jukkan fungsi
fihak tersebut di pasar. Dikatakan demikian karena mereka menyediakan
diri untuk membeli yang ditawarkan oleh produsen (pada contoh di atas
kelima orang yang menghasilkan barang A, B, C, D dan E), menjajakannya
dan menjualnya kepada yang membutuhkan. Kehadiran mereka mempermudah
proses pertukaran, di mana mereka pun pantas pula mengambil sejumlah
keuntungan sebagai balas jasa. Tampak bahwa dengan hadimya pedagang di
pasar, seperti pada gambar 1.4, pertukaran berkurang menjadi lima dari
semula. Hadimya pedagang ini juga menambah efi-
siensi waktu bagi para produsen sehingga mereka dapat lebih memusatkan perhatiannya dalam produksi. Dalam pasar yang modern, di mana spesialisasi sudah sedemikian tinggi, pedagang ini kemudian dikelompokkan menjadi pedagang besar (whole saler) dan pedagang eceran (retailer)
sesuai dengan besar-nya penjualan yang mereka lakukan dan ruang lingkup
per-dagangan mereka. Peranan para whole saler dan retailer ini semakin
berkembang seiring dengan semakin meluasnya pasar (jarak antara produsen dan konsumen),
semakin bervariasinya barang dan jasa yang ditawarkan dan semakin
berkembangnya teknologi. Akibatnya dalam sistem perekonomian yang
kom-pleks makin banyak dijumpai pedagang besar maupun pe-ngecer, baik
yang berspesialisasi pada barang atau jasa tertentu maupun tidak.
Akhimya pedagang besar atau eceran menjadi salah satu bentuk usaha
sendiri, yang tidak dapat dipisahkan dari sistem perekonomian secara
keseluruhan, karena tidak jarang mekanisme pasar dipengaruhi oleh
"tindak-tanduk" mereka.
Pasar, Pertukaran, Pemasaran, Produsen, Konsumen
Sampai pembicaraan di atas kita belum menyinggung dan menyepakati pengertian pemasaran.
Hal ini memang disengaja agar terlebih dahulu didapat suatu konsep
dasar yang dapat dijadikan pegangan, sebelum memerinci apa yang disebut
"pemasaran ”.
Dari pembicaraan di muka, seseorang mungkin dapat membayangkan pengertian pemasaran
dengan berdasarkan pada proses pertukaran barang atau jasa, yang
dilakukan oleh dua pihak yang saling membutuhkan. Dari sana dapat
ditarik pengertian seperti yang dikemukakan oleh beberapa ahli.
Me Carthy 1berpendapat bahwa Pemasaran (marketing)
menyangkut perencanaan secara efisien penggunaan sumber-sumber dan
pendistribusian barang dan jasa dari produsen ke konsumen, sehingga
tujuan kedua fihak (produsen dan kon-sumen) tercapai. Lebih tegas lagi
ia mengatakan bahwa Pemasaran menunjukkan performance kegiatan bisnis
yang me-nyangkut penyaluran barang dan jasa dari produsen ke konsumen,
untuk memuaskan konsumen dan mencapai tujuan produsen.
Tampak pada pendapat di atas, tujuan kedua pihak perlu di perhatikan
dengan seimbang. Pemasaran tidak akan berhasil apabila produsen
(penjual) hanya memperhatikan kepentingan atau tujuannya saja.
Sebaliknya pemasaran tidak akan menda-tangkan hasil yang memadai bagi
perusahaan, jika hanya memperhatikan kepentingan konsumen, tanpa
memperhatikan tujuan perusahaan dan efisiensi penggunaan faktor-faktor
produksi. Tujuan perusahaan terutama memperoleh ke-untungan yang memadai
sehingga ia dapat menunaikan segala kewajiban agar kelangsungan
hidupnya dapat terjamin. Semen-tara itu tujuan konsumen adalah
memperoleh manfaat yang maksimum dari sejumlah uang yang telah
ditukarkannya dengan barang atau jasa tertentu.
Pendapat di atas sebenamya memperkuat berbagai pendapat para ahli lain tentang pengertian Pemasaran.
Philip dan Duncan 2berpendapat bahwa Pemasaran adalah suatu kegiatan
yang meliputi langkah-langkah yang diperlukan untuk menempatkan
barang-barang tangible ke tangan konsumen. Stanton,3 mengatakan bahwa
Pemasaran meliputi sistem yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan
usaha yang bertujuan merencanakan, menentukan harga hingga mempromosikan
dan mendistribusikan barang atau jasa yang akan memuaskan kebutuhan
pembeli dan pembeli potensial. Sedangkan Lazo 4mengajukan pendapat yang
sederhana, bahwa pemasaran adalah semua kegiatan bisnis yang berkaitan
dengan arus perpindahan barang dan jasa dari produsen ke konsumen akhir.
Sementara itu Kotler 5berpendapat bahwa pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan pada usaha pemuasan ke-inginan dan kebutuhan melalui proses pertukaran.
Dengan memahami kemudian menggabungkan berbagai pendapat di atas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa pemasaran adalah :
Usaha yang terpadu untuk mengembangkan rencana strategi yang diarahkan pada usaha pemuasan kebutuhan dan keinginan pembeli, guna mendapatkan penjualan yang menghasilkan laba.
Jelaslah bahwa pemasaran mencakup berbagai kegiatan secara terpadu.
Artinya, untuk memperoleh hasil yang maksimal-meningkatnya penjualan dan
akhirnya meningkatnya laba-segala kegiatan dilakukan bersama-sama,
saling berhubungan dan saling mempertimbangkan satu sama lain.
Keberhasilan menjual .suatu barang pada dasamya merupakan hasil
per-paduan yang serasi antara kualitas barang, harga barang,
kebijaksanaan penyaluran barang serta aktivitas perusahaan (penjual)
dalam mempromosikan barang tersebut. Dengan kata lain, apabila
perusahaan hanya memperhatikan salah satu hal (misalnya kualitas) tanpa
memberikan perhatian yang cukup pada hal-hal lain maka hasil yang
dicapai tidak akan optimal.
Bahwa pemasaran akan berhasil apabila selalu diarahkan pada pemuasan
kebutuhan dan keinginan pembeli, merupakan suatu hal yang tidak dapat
ditawar lagi. Penjual akan memperoleh balas jasa dari pembeli apabila
pembeli merasa salah satu keinginan atau kebutuhannya dapat dipenuhi.
Tentu saja, kepuasan tersebut baru akan diperoleh apabila barang atau
jasa yang dibelinya sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan pembeli.
Makin banyak persyaratan yang dapat dipenuhi, makin besar kemungkinan
untuk terjadinya transaksi. Umumnya, sebagaimana kodrat manusia pembeli
menghendaki barang berkualitas tinggi di satu pihak, dengan harga yang
murah di pihak lain. Tentu saja sulit bagi penjual untuk memenuhi kedua
persyaratan yang bertentangan itu. Disinilah pemasaran ber-peran,
sehingga memungkinkan pembeli-pembeli membuat pilihan persyaratan mana
yang lebih diutamakannya, yang nantinya akan dipenuhi oleh penjualnya.
Tampilkan postingan dengan label pasar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pasar. Tampilkan semua postingan
Peningkatan Nilai Expor
Nilai Ekspor Meningkat 100 Persen
Sektor ekonomi di Bantul memegang peranan penting bagi warga. Salah satu prestasi mencolok di Bantul yakni peningkatan nilai ekspor terhitung sejak tahun 2008 yang senilai 20.548,23 US Dollar, pada 2011 ini meningkat drastis menjadi 41.058,27 US Dollar.
Peningkatan ini lantaran Bantul sebagai kabupaten industri berhasil menjalankan program-program untuk pencapaian target yang diingin-kan. Dari 922.000 jumlah penduduk Bantul secara keseluruhan, 398.000 penduduk merupakan tenaga kerja pada industri mulai kecil, menengah hingga a tas. Hal inilah yang mendorong industri dan ekspor mendominasi dalam pertumbuhan ekonomi di Bantul.
Dalam wawancara dengan KR, Rabu (18/7), Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Bantul, Sulistyanto MPd mengatakan jika dilihat dari eksportir di Bantul yang telah tersertifikasi, pada akhir 2011 sebanyak 12 orang. Namun hingga pertengahan 2012 ini bertambah menjadi 16 orang. Bantul sebagai kabupaten industri juga terlihat dari perkembangan Industri Kecil Menengah (IKM) yang mengalami peningkatan baik unit usaha, tenaga kerja, nilai produksi serta nilai investasi.
Berdasarkan data, dari 2007 Bantul memiliki 17.911 unit usaha, 79,904 tenaga kerja, dengan Rp 643.627 juta nilai produksi dan Rp 349.813juta nilai investasi. Namun pada 2011 meningkat menjadi 18.158 unit usaha, 81.805 tenaga kerja, Rp 488.715,8 juta nilai produksi dan Rp 509.266,780 juta nilai investasi.
"Saat ini yang kita unggulkan adalah industri kerajinan kulit terutama tatah sungging. Meski demikian kerajinan lain seperti dari kayu, ge-rabah, batik, mebel dan sebagainya permintaannya tetap tinggi. Bantul punya tiga sentra kerajinan kulit yakni Manding Sabdodadi, Gendeng Bangunjiwo dan Pucung Wu-kirsan. Tbtal unit usaha sebanyak 207 unit," ulas Sulis-tyanto. Pasar terbesar yakni Eropa, Jepang, Korea, negara Timur Tfengah dan Australia.
Keberhasilan Bantul di sektor perekonomian lain yakni keberanian Disperindagkop menganggarkan suntikan dana bagi 43 koperasi di Bantul. Sulistyanto mengatakan, dana hibah yang diberikan pada 34 koperasi ini total sebanyak Rp 250 juta. Dari 34 koperasi ini masing-masing akan mendapatkan dana berbeda-beda se-suai dengan proposal yang di-ajukan yakni antara Rp 5 juta hingga 75 juta. Adapun jenis koperasi yang diberikan suntikan dana beragam seperti koperasi usaha bersama, koperasi simpan pinjam, koperasi serba usaha hingga BMT. "Koperasi penerima hibah melalui tahap seleksi dengan berbagai persyaratan mutlak seperti berbadan hukum minimal tiga tahun, koperasi harus dalam kondisi sehat dan sebagainya," ujamya-(Rahajeng Pramesi)
Sektor ekonomi di Bantul memegang peranan penting bagi warga. Salah satu prestasi mencolok di Bantul yakni peningkatan nilai ekspor terhitung sejak tahun 2008 yang senilai 20.548,23 US Dollar, pada 2011 ini meningkat drastis menjadi 41.058,27 US Dollar.
Peningkatan ini lantaran Bantul sebagai kabupaten industri berhasil menjalankan program-program untuk pencapaian target yang diingin-kan. Dari 922.000 jumlah penduduk Bantul secara keseluruhan, 398.000 penduduk merupakan tenaga kerja pada industri mulai kecil, menengah hingga a tas. Hal inilah yang mendorong industri dan ekspor mendominasi dalam pertumbuhan ekonomi di Bantul.
Dalam wawancara dengan KR, Rabu (18/7), Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Bantul, Sulistyanto MPd mengatakan jika dilihat dari eksportir di Bantul yang telah tersertifikasi, pada akhir 2011 sebanyak 12 orang. Namun hingga pertengahan 2012 ini bertambah menjadi 16 orang. Bantul sebagai kabupaten industri juga terlihat dari perkembangan Industri Kecil Menengah (IKM) yang mengalami peningkatan baik unit usaha, tenaga kerja, nilai produksi serta nilai investasi.
Berdasarkan data, dari 2007 Bantul memiliki 17.911 unit usaha, 79,904 tenaga kerja, dengan Rp 643.627 juta nilai produksi dan Rp 349.813juta nilai investasi. Namun pada 2011 meningkat menjadi 18.158 unit usaha, 81.805 tenaga kerja, Rp 488.715,8 juta nilai produksi dan Rp 509.266,780 juta nilai investasi.
"Saat ini yang kita unggulkan adalah industri kerajinan kulit terutama tatah sungging. Meski demikian kerajinan lain seperti dari kayu, ge-rabah, batik, mebel dan sebagainya permintaannya tetap tinggi. Bantul punya tiga sentra kerajinan kulit yakni Manding Sabdodadi, Gendeng Bangunjiwo dan Pucung Wu-kirsan. Tbtal unit usaha sebanyak 207 unit," ulas Sulis-tyanto. Pasar terbesar yakni Eropa, Jepang, Korea, negara Timur Tfengah dan Australia.
Keberhasilan Bantul di sektor perekonomian lain yakni keberanian Disperindagkop menganggarkan suntikan dana bagi 43 koperasi di Bantul. Sulistyanto mengatakan, dana hibah yang diberikan pada 34 koperasi ini total sebanyak Rp 250 juta. Dari 34 koperasi ini masing-masing akan mendapatkan dana berbeda-beda se-suai dengan proposal yang di-ajukan yakni antara Rp 5 juta hingga 75 juta. Adapun jenis koperasi yang diberikan suntikan dana beragam seperti koperasi usaha bersama, koperasi simpan pinjam, koperasi serba usaha hingga BMT. "Koperasi penerima hibah melalui tahap seleksi dengan berbagai persyaratan mutlak seperti berbadan hukum minimal tiga tahun, koperasi harus dalam kondisi sehat dan sebagainya," ujamya-(Rahajeng Pramesi)
XT SQUARE, Magnet Wisata Baru Kota Jogja
Akhir 2012 ini Kota Yogyakarta akan memiliki magnet wisatawa baru berupa mal kerajinan terbesar di kota pariwisata ini. Menempati areal eks terminal Yogyakarta, Pemkot setempat membangun pasar kerajinan modern bernama XT-Square.
Tak tanggung tanggung Pemkot Yogyakarta membenamkan modal berupa aset dan bangunan gedung senilai Rp 117 miliar untuk pendirian mal kerajinan ini. Perusahaan Daerah (PD) Jogjatama Visesha yang dipercaya untuk mengelola pasar modern ini.
Sebagai pasar kerajinan terbesar, XT-Square menyediakan ratusan stan kerajinan. Ada ada 264 stan yang disewakan untuk para perajin dan pedagang kerajinan di Kota Yogyakarta. Selain itu juga ada 13 stan kuliner yang juga diperuntukkan bagi pedagang kuliner Yogyakarta.
Pengelola masih akan membangun stand outdoor di kompleks XT-Square tersebut. “Kita mengutamakan pengusaha dan perajin asal Kota Yogyakarta,” terang Direktur Utama PD Jogjatama Vishesha Muhammad, Verga Prabowo Agus.
Menurutnya, pembangunan XT-Square ini menggunakan dana APBD Kota Yogyakarta. Karenanya, kata dia, pemanfaatannya diperuntukkan bagi warga Kota Yogyakarta.
XT-Square sendiri terdiri dari empat areal gedung yaitu gedung pertunjukan kesenian, gedung stan kerajinan, gedung kuliner dan basement. Gedung pertunjukan memiliki atap yang bisa dibuka setiap saat. Pengelola sudah memiliki jadwal rutin terkait pertunjukan kesenian yang akan digelar digedung ini.
Gedung kerajinan memuat 264 stan kerajinan. Stan ini akan diisi oleh perajin dan pengusaha Kota Yogyakarta. Pengelola sudah menyebar 300 formulir pendaftaran sewa stan kerajinan di gedung ini.
“Kita akan melakukan veri-fikiasi terkait usaha dan produk yang akan mereka jual. Jangan sampai produk tersebut terlalu banyak yangsama,” tambah Prabowo. Pengelola menerapkan biaya sewa Rp 125 ribu hingga 225 ribu per bulan per meter persegi.
XT-Square sendiri dikonsep sebagai mal kerajinan yang buka hingga dini hari.
Pasar kerajinan modern ini akan buka mulai pukul 13.00 hingga 01.00 dini hari. Bahkan jika pemilik stan menginginkan buka sampai pagi, pengelola siap memfasilitasi. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan adanya magnet wisata baru di Yogyakarta. “Selama ini tidak ada kegiatan di Yogya yang sampai dini hari. Ini menjadi altematif tempat wisata baru di kota ini,” tambahnya.
Direktur Operasional dan Pemasaran PD Jogjatama Vishesha, Widihasto Wasana Putra, mengatakan antusias masyarakat menyewa stan kerajinan di eks terminal Yogyakarta ini sangat besar. Buktinya 300 formulir yang disediakan pengelola ludes diambil calon pe-
nyewa. Meski mengutamakan masyarakat Kota Yogyakarta namun pihaknya masih akan melakukan se-leksi terhadap masyarakat yang telah mendaftar untuk bisa menyewa kios di XT-Square tersebut, mulai dari tempat tinggal dan produk yang akan dijual.
“Kami juga akan melihat produk yang mereka jual. Banyak sekali peminat yang berkeinginan berjualan batik. Jangan sampai semua kios diisi dengan batik. Produk yang dijual harus variatif,” katanya.
Dari 264 kios kerajinan di XT-Square, tidak seluruhnya diperuntukkan bagi masyarakat umum karena sudah ada beberapa kios yang dialokasikan bagi forum ko-munikasi usaha mikro kecil dan menengah (TJMKM) Kota Yogyakarta serta untuk anggota Dewan Kerajinan Nasional Daerah (De-kranasda) Kota Yogyakarta, masing-masing 24 kios dan 42 kios.
“Penempatan penyewa di zona kerajinan tersebut juga akan dilakukan dengan sistem undian per blok. Kami akan memilih penyewa yang akan menempati blok tertentu, baru kemudian mereka melakukan undian kios yang akan ditempati,” katanya.
Selain di zona kerajinan, antusiasme peminat juga terjadi di zona kuliner indoor. Dari 13 kios yang disediakan, sudah ada 30 peminat. Sedangkan untuk di zona pertokoan, baru ada 10 peminat dari 20 kios yang disediakan.
“Pendaftaran masih akan dibuka. Jika penyewa tersebut tidak dapat menyewa kios saat ini, maka mereka akan masuk dalam daftar tunggu. Jika ada penyewa yang keluar, maka mereka bisa menggantikannya,” katanya. Proses seleksi dan verifikasi penyewa tersebut ditargetkan dapat diselesaikan pada awal Desember yang dilanjutkan dengan soft opening pada 20 Desember 2012.
Karena mengutamakan masyarakat Kota Yogyakarta sebagai penyewa stan, hingga saat ini banyak pengusaha dan perajin luar Kota Yogyakarta yang harus masuk daftar tunggu. Mereka bisa masuk menyewa stand di XT-Square tersebut setelah seluruh pengusaha dan pengrajin Kota Yogyakarta yang mengajukan formulir sewa terakomodasi.
Ketua Dewan Pengawas Eddy Purjanto menegaskan pengelola harus memprioritaskan warga Yogyakarta untuk mengisi kios XT Square. Hal ini guna menjaga tujuan utama pasar seni dan kerajinan tersebut dibangun. Jika kuota masih belum terpenuhi, baru mempersilakan warga luar Yogyakarta. “Kami akan mengawal pada kuota warga Yogyakarta itu,” ungkapnya.
Selain itu, makelar kios juga harus diwaspadai. Surat perjanjian antara penyewa kios dengan mana-jemen soal hak alih, hendaknya menjadi pegangan utama. Termasuk, perjanjian bagi penyewa yang harus buka setiap hari. Jika dalam jangka waktu 10 hari berturut-turut tidak buka, maka penyewa diang-gap mengundurkan diri. Artikel tentang XT-Square ini berasal dari Republika 28 Nov 2012.
Tak tanggung tanggung Pemkot Yogyakarta membenamkan modal berupa aset dan bangunan gedung senilai Rp 117 miliar untuk pendirian mal kerajinan ini. Perusahaan Daerah (PD) Jogjatama Visesha yang dipercaya untuk mengelola pasar modern ini.
Sebagai pasar kerajinan terbesar, XT-Square menyediakan ratusan stan kerajinan. Ada ada 264 stan yang disewakan untuk para perajin dan pedagang kerajinan di Kota Yogyakarta. Selain itu juga ada 13 stan kuliner yang juga diperuntukkan bagi pedagang kuliner Yogyakarta.
Pengelola masih akan membangun stand outdoor di kompleks XT-Square tersebut. “Kita mengutamakan pengusaha dan perajin asal Kota Yogyakarta,” terang Direktur Utama PD Jogjatama Vishesha Muhammad, Verga Prabowo Agus.
Menurutnya, pembangunan XT-Square ini menggunakan dana APBD Kota Yogyakarta. Karenanya, kata dia, pemanfaatannya diperuntukkan bagi warga Kota Yogyakarta.
XT-Square sendiri terdiri dari empat areal gedung yaitu gedung pertunjukan kesenian, gedung stan kerajinan, gedung kuliner dan basement. Gedung pertunjukan memiliki atap yang bisa dibuka setiap saat. Pengelola sudah memiliki jadwal rutin terkait pertunjukan kesenian yang akan digelar digedung ini.
Gedung kerajinan memuat 264 stan kerajinan. Stan ini akan diisi oleh perajin dan pengusaha Kota Yogyakarta. Pengelola sudah menyebar 300 formulir pendaftaran sewa stan kerajinan di gedung ini.
“Kita akan melakukan veri-fikiasi terkait usaha dan produk yang akan mereka jual. Jangan sampai produk tersebut terlalu banyak yangsama,” tambah Prabowo. Pengelola menerapkan biaya sewa Rp 125 ribu hingga 225 ribu per bulan per meter persegi.
XT-Square sendiri dikonsep sebagai mal kerajinan yang buka hingga dini hari.
Pasar kerajinan modern ini akan buka mulai pukul 13.00 hingga 01.00 dini hari. Bahkan jika pemilik stan menginginkan buka sampai pagi, pengelola siap memfasilitasi. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan adanya magnet wisata baru di Yogyakarta. “Selama ini tidak ada kegiatan di Yogya yang sampai dini hari. Ini menjadi altematif tempat wisata baru di kota ini,” tambahnya.
Direktur Operasional dan Pemasaran PD Jogjatama Vishesha, Widihasto Wasana Putra, mengatakan antusias masyarakat menyewa stan kerajinan di eks terminal Yogyakarta ini sangat besar. Buktinya 300 formulir yang disediakan pengelola ludes diambil calon pe-
nyewa. Meski mengutamakan masyarakat Kota Yogyakarta namun pihaknya masih akan melakukan se-leksi terhadap masyarakat yang telah mendaftar untuk bisa menyewa kios di XT-Square tersebut, mulai dari tempat tinggal dan produk yang akan dijual.
“Kami juga akan melihat produk yang mereka jual. Banyak sekali peminat yang berkeinginan berjualan batik. Jangan sampai semua kios diisi dengan batik. Produk yang dijual harus variatif,” katanya.
Dari 264 kios kerajinan di XT-Square, tidak seluruhnya diperuntukkan bagi masyarakat umum karena sudah ada beberapa kios yang dialokasikan bagi forum ko-munikasi usaha mikro kecil dan menengah (TJMKM) Kota Yogyakarta serta untuk anggota Dewan Kerajinan Nasional Daerah (De-kranasda) Kota Yogyakarta, masing-masing 24 kios dan 42 kios.
“Penempatan penyewa di zona kerajinan tersebut juga akan dilakukan dengan sistem undian per blok. Kami akan memilih penyewa yang akan menempati blok tertentu, baru kemudian mereka melakukan undian kios yang akan ditempati,” katanya.
Selain di zona kerajinan, antusiasme peminat juga terjadi di zona kuliner indoor. Dari 13 kios yang disediakan, sudah ada 30 peminat. Sedangkan untuk di zona pertokoan, baru ada 10 peminat dari 20 kios yang disediakan.
“Pendaftaran masih akan dibuka. Jika penyewa tersebut tidak dapat menyewa kios saat ini, maka mereka akan masuk dalam daftar tunggu. Jika ada penyewa yang keluar, maka mereka bisa menggantikannya,” katanya. Proses seleksi dan verifikasi penyewa tersebut ditargetkan dapat diselesaikan pada awal Desember yang dilanjutkan dengan soft opening pada 20 Desember 2012.
Karena mengutamakan masyarakat Kota Yogyakarta sebagai penyewa stan, hingga saat ini banyak pengusaha dan perajin luar Kota Yogyakarta yang harus masuk daftar tunggu. Mereka bisa masuk menyewa stand di XT-Square tersebut setelah seluruh pengusaha dan pengrajin Kota Yogyakarta yang mengajukan formulir sewa terakomodasi.
Ketua Dewan Pengawas Eddy Purjanto menegaskan pengelola harus memprioritaskan warga Yogyakarta untuk mengisi kios XT Square. Hal ini guna menjaga tujuan utama pasar seni dan kerajinan tersebut dibangun. Jika kuota masih belum terpenuhi, baru mempersilakan warga luar Yogyakarta. “Kami akan mengawal pada kuota warga Yogyakarta itu,” ungkapnya.
Selain itu, makelar kios juga harus diwaspadai. Surat perjanjian antara penyewa kios dengan mana-jemen soal hak alih, hendaknya menjadi pegangan utama. Termasuk, perjanjian bagi penyewa yang harus buka setiap hari. Jika dalam jangka waktu 10 hari berturut-turut tidak buka, maka penyewa diang-gap mengundurkan diri. Artikel tentang XT-Square ini berasal dari Republika 28 Nov 2012.
Langganan:
Postingan (Atom)
